60

Menjadi orangtua memang tidak mudah. Ada kalanya Anda hilang kesabaran saat menghadapi sang buang hati sehingga membentak anak dengan nada yang keras. Namun ingat, membentak anak bukanlah cara berkomunikasi yang baik dan ada dampak yang ditimbulkannya. Apa saja akibat yang mungkin timbul jika anak terlalu sering dibentak dan bagaimana menyikapinya?

Apa dampak terlalu sering membentak anak?

Semakin bertambah usia anak, emosinya juga semakin berkembang. Terkadang ada saja sikapnya yang membuat Anda naik darah hingga terlontarlah bentakan padanya.

Namun perlu dipahami bahwa ada akibat yang harus ditanggung oleh orangtuanya saat sering membentak anak, yaitu:

1. Membentak membuat anak tidak mau mendengarkan orangtua

Jika berpikir saat membentak anak akan lebih mendengarkan dan patuh terhadap ucapan orangtua, anggapan ini salah besar.

Justru, salah satu akibat yang mungkin terjadi saat anak sering dibentak adalah anak jadi tidak mau mendengar nasihat orangtua.

Saat membentak, orangtua sebenarnya sedang mengaktifkan salah satu bagian pada otak anak yang memiliki fungsi pertahanan dan perlawanan.

Ketika anak mendengar bentakan, ia akan ketakutan, melawan orangtua, atau justru kabur. Ini bisa mengganggu perkembangan anak.

Daripada memarahinya dengan nada bicara yang keras, cobalah untuk berdiskusi dengan anak saat ia melakukan kesalahan.

Orangtua akan melihat hasil yang berbeda pada anak setelah menghentikan kebiasaan membentak anak.

2. Menjadikan anak merasa tidak berharga

Orangtua mungkin pernah merasa bahwa membentak anak membuatnya lebih menghormati Anda. Padahal, anak yang terlalu sering dibentak merasa dirinya tidak berharga.

Sebagai seorang manusia, anak tentu merasa ingin disayangi dan dihargai, apalagi dengan orang terdekatnya, termasuk orangtuanya.

Maka itu, terlalu sering membentak justru lebih banyak memberikan dampak negatif terhadap tumbuh kembang si kecill dibanding sebaliknya.

3. Membentak salah satu bentuk penindasan terhadap anak

Tahukah Anda bahwa membentak anak adalah salah satu bentuk penindasan atau bullying?

Ya, bullying tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja, tapi bisa terjadi di rumah. Akibat yang mungkin terjadi pada anak yang sering dibentak bisa jadi mirip dengan dampak bullying

Jika orangtua tidak ingin anak memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang buruk, lebih baik hentikan kebiasaan membentak saat anak membuat salah.

4. Merenggangkan hubungan dengan anak

Saat anak terlalu sering dibentak, salah satu akibat yang mungkin terjadi adalah hubungan orangtua dan anak menjadi renggang.

Dampaknya, anak bisa merasa sedih, malu, dan tidak disayang lagi. Jadi, tak heran jika anak tidak mau terlalu dekat lagi dengan orangtuanya.

Apalagi, jika orangtua tidak mau mendengar alasan anak terlebih dahulu.

Anak juga bisa merasa tidak dimengerti bahkan oleh orang terdekatnya sendiri, dalam kasus ini kedua orangtuanya.

Jadi, hindari kebiasaan membentak anak jika tidak ingin hubungan Anda dan buah hati menjadi renggang.

5. Membuat anak tidak mau menghormati orangtua

Merasa tidak dihargai dan tidak disayang sering menjadi akibat dari anak yang terlalu sering dibentak oleh orangtua.

Pasalnya, membentak anak juga bentuk dari orangtua yang tidak menghargai anaknya sendiri.

Maka itu, akibat yang mungkin terjadi pada anak yang terlalu sering dibentak oleh orangtua adalah anak menjadi tidak bisa menunjukkan rasa hormat kepada orangtua.

6. Menciptakan perilaku yang sama pada anak di masa depan

Membentak bisa memberikan dampak buruk bagi kondisi psikologis anak dalam jangka panjang.

Mengutip Child Development Journal, anak yang terlalu sering dibentak orangtua bisa membuat anak melakukan hal yang sama seperti orangtua lakukan saat ia masih kecil.

Anak akan tumbuh sebagai orang yang lebih agresif secara fisik maupun verbal.

Pasalnya, saat masih kecil, anak telah terbiasa melihat perilaku kasar baik secara fisik maupun verbal dari orangtua sebagai bentuk penyelesaian masalah.

Maka itu, ketika mereka sedang menghadapi masalah, solusi yang terpikirkan adalah perilaku kasar. Hal ini membuat anak saat dewasa nanti, tidak akan ragu membentak orang lain.

Jika bentakan diikuti dengan kata-kata yang menyakitkan atau menghina, anak akan kehilangan kepercayaan diri dan hidup dalam kegelisahan. Orangtua perlu meningkatkan kepercayaan diri anak bila itu terjadi.

Selain itu, anak yang semasa kecil sering dibentak oleh orangtua lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan depresi akibat trauma masa kecil ini.

Bagaimana cara mengatur emosi setelah membentak anak?

Jika orangtua kehilangan kesabaran dan kelepasan membentak anak, jangan terbawa emosi.

Menahan diri untuk tidak membentak dapat mencegah timbulnya perilaku buruk dari anak akibat terlalu sering dibentak.

Berikut cara mengatur emosi setelah membentak anak:

1. Tarik napas dalam-dalam

Setelah kelepasan membentak atau menyakiti hati anak, tarik napas panjang paling sedikit tiga kali.

Hindari mengeluarkan kata-kata yang membuat anak semakin merasa sakit hati.

Ketika sedang dilanda emosi, tubuh Anda jadi lebih tegang. Tanda-tandanya berupa napas pendek-pendek, otot-otot menegang, jantung berdebar dengan hebat.

Menarik napas dalam-dalam bisa membantu tubuh lebih rileks sehingga bisa berpikir lebih jernih.

2. Minta maaf dan bertanggung jawab

Jangan malu untuk meminta maaf pada anak jika Anda terlanjur membentaknya.

Secara tidak langsung, Anda sedang memberi contoh dan mengajarkan anak untuk meminta maaf serta bertanggung jawab atas perbuatannya.

Jika orangtua telah kelepasan membentak anak, minta maaf pada anak dengan nada yang tenang.

Anda bisa berkata, “Maaf ya, nak. Ayah dan Ibu jadi terbawa emosi tadi dan membentakmu.”

Hal ini mungkin membuat anak bisa memaklumi kesalahan yang orangtuanya lakukan, sama halnya dengan Anda yang bisa menahan diri untuk tidak marah pada anak.

3. Mulai kembali pembicaraan dengan tenang

Ketika orangtua membentak, anak tidak akan sepenuhnya memahami isi perkataan Anda.

Jadi setelah meminta maaf, pastikan bahwa emosi Anda telah mereda dan tawarkan pada anak untuk memulai kembali percakapan dari awal, tanpa luapan emosi atau bentakan.

4. Hindari memaksakan pembicaraan saat itu juga

Apabila orangtua tidak berhasil menenangkan diri, hindari memaksakan diri untuk menyelesaikan pembicaraan dengan anak saat itu juga.

Ambil jeda sesaat dan tentukan waktu yang Anda butuhkan agar ketegangan antara orangtua dan anak tidak berlarut-larut.

Sebagai contoh, katakan bahwa saat ini Anda sedang marah besar dan ingin membereskan cucian dulu sambil menenangkan diri. Setelah itu, lanjutkan kembali pembicaraan dengan anak.

5. Ingatkan anak bahwa mencintainya

Sehabis dibentak, anak akan merasa kecil hati. Agar perasaan tersebut tidak berlarut dan menjadi akibat dari anak terlalu sering dibentak, orangtua perlu memberi tahu bahwa Anda tidak membenci anak.

Penting bagi orangtua untuk mengingatkan anak bahwa Anda mencintai mereka dan hanya sedang merasa lelah dan penuh emosi.

Tips menahan diri dari membentak anak

Pada kesempatan selanjutnya, jangan sampai kehilangan kesabaran lagi. Terapkan langkah-langkah berikut untuk menahan diri saat berada di puncak emosi.

Hal ini cukup efektif agar anak tidak mengalami gangguan perilaku sebagai akibat terlalu sering dibentak. Berikut beberapa caranya:

Kenali emosi dan perasaan

Pahami apa yang membuat Anda mengamuk dan kapan mulai terbawa emosi. Sebagai contoh, setiap pulang kerja jadi lebih sensitif.

Sadari hal ini dan jangan dijadikan pembenaran untuk memarahi anak. Perhatikan dan jaga nada suara saat berbicara agar tidak meledak-ledak.

Bicarakan dengan tenang tapi tegas

Untuk memastikan orangtua tidak menegur anak secara berlebihan, posisi berbicara yang nyaman. Sebagai contoh, sambil duduk bersama, bukan berdiri.

Usahakan juga untuk tidak menegur anak di depan orang lain, seperti kakak dan adiknya atau asisten rumah tangga.

Ini dilakukan agar Anda terhindar dari tekanan untuk mendisiplinkan anak terlalu keras.

Sumber : https://hellosehat.com/parenting/tips-parenting/akibat-anak-sering-dibentak-orangtua/

 

× Silahkan Chat Kami via Whatsapp :)